Jumat, 20 Februari 2015

Akulturasi kebudayaan Hindu Budha Nusantara || Erika Widiya Agustiana


akulturasi kebudayaan Hindu budha dengan kebudayaan asli Indonesia

Gmail : +Erika widiya agustiana
Twitter : http://twitter.com/Erika_Wdiyaa3
Instagram  : http://instagram.com/erikagustiana99

Akulturasi kebudayaan Hindu budha dengan kebudayaan nusantara
SEJARAH Indonesia kelas x


kebudayaan Hindu – Budha yang masuk ke Indonesia tidak diterima seperti apa adanya, tetapi diolah, ditelaah dan disesuaikan dengan budaya yang dimiliki penduduk Indonesia, sehingga budaya tersebut berpadu dengan kebudayaan asli Indonesia menjadi bentuk akulturasi kebudayaan Indonesia Hindu – Budha.

Seni bagun
Seni bangunan Candi tersebut memang mengandung unsur budaya India tetapi keberadaan candi-candi di Indonesia tidak sama dengan candi-candi yang ada di India,karena Indonesia hanya mengambil unsur teknologi perbuatannya melalui dasar-dasar teoritis yang tercantum dalam kitab Silpasastra yaitu sebuah kitab pegangan yang memuat berbagai petunjuk untuk melaksanakan pembuatan arca dan bangunan.

Untuk itu dilihat dari bentuk dasar maupun fungsi candi tersebut terdapat perbedaan dimana bentuk dasar bangunan candi di Indonesia adalah punden berundak-undak,yang merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Megalithikum yang berfungsi sebagai tempat pemujaan.
Sedangkan fungsi bangunan candi itu sendiri di Indonesia sesuai dengan asal kata candi tersebut. Perkataan candi berasal dari kata Candika yang merupakan salah satu nama dewi Durga atau dewi maut, sehingga candi merupakan bangunan untuk memuliakan orang yang telah wafat khususnya raja-raja dan orang-orang terkemuka.
Di samping itu juga dalam bahasa kawi candi berasal dari kata Cinandi artinya yang dikuburkan. Untuk itu yang dikuburkan didalam candi bukanlah mayat atau abu jenazah melainkan berbagai macam benda yang menyangkut lambang jasmaniah raja yangdisebut dengan Pripih.
Dengan demikian fungsi candi Hindu di Indonesia adalah untuk pemujaan terhadap roh nenek moyang atau dihubungkan dengan raja yang sudah meninggal. Hal ini terlihat dari adanya lambang jasmaniah raja sedangkan fungsi candi di India adalah untuk tempat pemujaan terhadap dewa, contohnya seperti candi-candi yang terdapat di kota Benares merupakan tempat pemujaan terhadap dewa Syiwa.


adalah diatas dalah gambar candi  jago yang merupakan  salah satu peninggalan kerajaan Singosari yang merupakan tempat dimuliakannya raja Wisnuwardhana yang memerintah tahun 1248 – 1268.
Dilihat dari gambar candi tersebut, bentuk dasarnya adalah punden berundak- undak dan pada bagian bawah terdapat kaki candi yang di dalamnya terdapat sumuran candi,di mana di dalam sumuran candi tersebut tempat menyimpan pripih (lambang jasmaniah raja Wisnuwardhana).




Untuk candi yang bercorak Budha fungsinya sama dengan di India yaitu untuk memuja Dyani Bodhisattwa yang dianggap sebagai perwujudan dewa. candi Borobudur adalah candi Budha yang terbesar sehingga merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia dan merupakan salah satu peninggalan kerajaan Mataram, dilihat dari 3 tingkatan, pada tingkatan yang paling atas terdapat patung Dyani Budha.
Patung-patung Dyani Budha inilah yang menjadi tempat pemujaan umat Budha.
Di samping itu juga pada bagian atas, juga terdapat atap candi yang berbentuk stupa.
Untuk candi Budha di India hanya berbentuk stupa, sedangkan di Indonesia stupa merupakan ciri khas atap candi-candi yang bersifat agama Budha. Dengan demikian seni bangunan candi di Indonesia memiliki kekhasan tersendiri karena Indonesia hanya mengambil intinya saja dari unsur budaya India sebagai dasar ciptaannya dan hasilnya tetap sesuatu yang bercorak Indonesia.
Seni rupa
Dalam seni rupa contoh wujud akulturasinya dapat dilihat dari relief dinding candi (gambar timbul), gambar timbul pada candi tersebut banyak menggambarkan suatu kisah/cerita yang berhubungan dengan ajaran agama Hindu ataupun Budha.



Gambar diatas adalah relief dari candi Borobudur yang menggambarkan Budha sedang digoda oleh Mara yang menari-nari diiringi gendang, hal ini menunjukkan bahwa relief tersebut mengambil kisah dalam riwayat hidup Sang Budha seperti yang terdapat dalam kitab Lalitawistara.
Demikian pula di candi-candi Hindu, relief yang juga mengambil kisah yang terdapat dalam kepercayaan Hindu seperti kisah Ramayana. Yang digambarkan melalui relief candi Prambanan ataupun candi Panataran.
Dari relief-relief tersebut apabila diamati lebih lanjut, ternyata Indonesia juga mengambil kisah asli ceritera tersebut, tetapi suasana kehidupan yang digambarkan oleh relief tersebut adalah suasana kehidupan asli keadaan alam ataupun masyarakat Indonesia.
Dengan demikian terbukti bahwa Indonesia tidak menerima begitu saja budaya India, tetapi selalu berusaha menyesuaikan dengan keadaan dan suasana di Indonesia.
Seni sastra :


Untuk wujud akulturasi dalam seni sastra dapat dibuktikan dengan adanya suatu ceritera/kisah yang berkembang di Indonesia yang bersumber dari
kitab Ramayana yang ditulis oleh Walmiki dan
kitab Mahabarata yang ditulis oleh Wiyasa.
Kedua kitab tersebut merupakan kitab kepercayaan umat Hindu. Tetapi setelah berkembang di Indonesia tidak sama proses seperti aslinya dari India karena sudah disadur kembali oleh pujangga-pujangga Indonesia, ke dalam bahasa Jawa kuno. Dan,tokoh-tokoh cerita dalam kisah tersebut ditambah dengan hadirnya tokoh punokawan seperti Semar, Bagong, Petruk dan Gareng. Bahkan dalam kisah Bharatayuda yang disadur dari kitab Mahabarata tidak menceritakan perang antar Pendawa dan Kurawa,melainkan menceritakan kemenangan Jayabaya dari Kediri melawan Jenggala.
Wayang:
Di samping itu juga, kisah Ramayana maupun Mahabarata diambil sebagai suatu ceritera dalam seni pertunjukan di Indonesia yaitu salah satunya pertunjukan Wayang.


Seni pertunjukan wayang merupakan salah satu kebudayaan asli Indonesia sejak zaman prasejarah dan pertunjukan wayang tersebut sangat digemari terutama oleh masyarakat Jawa.
Untuk itu wujud akulturasi dalam pertunjukan wayang tersebut terlihat dari pengambilan lakon ceritera dari kisah Ramayana maupun Mahabarata yang berasal dari budaya India, tetapi tidak sama persis dengan aslinya karena sudah mengalami perubahan. Di India tidak ada tokoh punokawan seperti pada gambar diatas yaitu tokoh gareng, petruk, bagong san Semar.
Perubahan  lain terletak dari karakter atau perilaku tokoh-tokoh ceritera misalnya dalam kisah Mahabarata keberadaan tokoh Durna, dalam cerita aslinya Dorna adalah seorang maha guru bagi Pendawa dan Kurawa dan berperilaku baik, tetapi dalam lakon di Indonesia Dorna adalah tokoh yang berperangai buruk suka menghasut.
Tulisan/aksara




Bahasa
Wujud akulturasi dalam bidang bahasa, dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa sansekerta yang dapat ditemukan sampai sekarang dimana bahasa Sansekerta tersebut memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa Sansekerta pada awalnya banyak ditemukan pada prasasti (batu bertulis) peninggalan kerajaan Hindu – Budha pada abad 5 – 7 M,
Contohnya: prasasti Yupa dari Kutai, prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Tetapi untuk perkembangan selanjutnya bahasa Sansekerta di gantikan oleh bahasa Melayu Kuno
seperti yang ditemukan pada prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya 7 – 13 M.
Sedangkan untuk aksara, dapat dibuktikan dengan adanya penggunaan huruf Pallawa,tetapi kemudian huruf Pallawa tersebut juga berkembang menjadi huruf Jawa Kuno (kawi) dan huruf (aksara) Bali dan Bugis. Hal ini dapat dibuktikan melalui Prasasti Dinoyo (Malang) yang menggunakan huruf Jawa Kuno.

Religi atau kepercayaan
Sistem kepercayaan yang berkembang di Indonesia sebelum agama Hindu-Budha masuk ke Indonesia adalah kepercayaan yang berdasarkan pada Animisme dan Dinamisme.
Dengan masuknya agama Hindu – Budha ke Indonesia, maka masyarakat Indonesia mulai menganut/mempercayai agama-agama tersebut.
Tetapi agama Hindu dan Budha yang berkembang di Indonesia sudah mengalami perpaduan dengan kepercayaan Animisme dan Dinamisme, atau dengan kata lainmengalami Sinkritisme.
Sinkritisme adalah bagian dari proses akulturasi, yang berarti perpaduan dua kepercayaan yang berbeda menjadi satu.
Untuk itu agama Hindu dan Budha yang berkembang di Indonesia, berbeda dengan agama Hindu – Budha yang dianut oleh masyarakat India. Perbedaaan-perbedaan tersebut misalnya dapat dilihat dalam upacara ritual yang diadakan oleh umat Hindu atau Budha yang ada di Indonesia. Contohnya, upacara Nyepi yang dilaksanakan oleh umat Hindu Bali, upacara tersebut tidak dilaksanakan oleh umat Hindu di India.
Demikianlah penjelasan tentang contoh wujud akulturasi dalam bidang religi/kepercayaan,untuk lebih memahaminya dapat Anda meminta penjelasan atau mencari contoh-contoh lain kepada Guru bina Anda. Selanjutnya simak uraian materi berikutnya.

Sistem pemerintahan
Setelah masuknya pengaruh Hindu-Budha, tata pemerintahan disesuaikan dengan sistem kepala pemerintahan yang berkembang di India. Seorang kepala pemerintahan bukan lagi seorang kepala suku, melainkan seorang raja, yang memerintah wilayah kerajaannya secara turun temurun.
Dengan adanya pengaruh kebudayaan India tersebut, maka sistem pemerintahan yang berkembang di Indonesia adalah bentuk kerajaan yang diperintah oleh seorang raja secara turun temurun. Pada masa pemerintahan kepala suku mereka dianggap sebagai wakil arwah nenek moyang, karena itu para  .epala suku ditaati oleh seluruh anggota kelompok masyrakat.
Setelah buadaya india masuk, sitem kerajaan, seorang  Raja  dipuja sebagai dewa atau dianggap keturunan dewa yang keramat, sehingga rakyat sangat memuja Raja tersebut, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya raja-raja yang memerintah di Singosari seperti Kertanegara diwujudkan sebagai Bairawa dan R Wijaya Raja Majapahit diwujudkan sebagai Harihari (dewa Syiwa dan Wisnu jadi satu).
Permerintahan Raja di Indonesia ada yang bersifat mutlak dan turun-temurun seperti di India dan ada juga yang menerapkan prinsip musyawarah. Prinsip musyawarah diterapkan terutama apabila raja tidak mempunyai putra mahkota yaitu seperti yang terjadi pada masa berlangsungnya kerajaan Majapahit, dalam hal pengangkatan Wikramawardana.

Sistem kemasyarakatan
Wujud akulturasi di samping terlihat dalam sistem pemerintahan juga terlihat dalam sistem kemasyarakatan, yaitu pembagian lapisan masyarakat berdasarkan sistem kasta.
 Sistem kasta menurut kepercayaan Hindu terdiri dari kasta :
kastaBrahmana (golongan Pendeta),
kasta Ksatria (golongan Prajurit, Bangsawan),
kasta Waisya (golongan pedagang) dan
kasta Sudra (golongan rakyat jelata).
Kasta-kasta tersebut juga berlaku atau dipercayai oleh umat Hindu Indonesia tetapi tidak sama persis dengan kasta-kasta yang ada di India karena kasta India benar-benar diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, sedangkan di Indonesia tidak demikian,karena di Indonesia kasta hanya diterapkan untuk upacara keagamaan. Sistem kasta yang ada di Indonesia ttidak sekeras di India. Contoh sistem kasta di Bali yang masih da asampai sekarang.

Thanks For Look :) 

Jumat, 13 Februari 2015

PENINGGALAN - PENINGGALAN SEJARAH HINDU - BUDHA INDONESIA


Pada masa kerajaan Hindu-Budha di Nusantara, banyak meninggalkan sumber sejarah, baik berupa bangunan kuno (seni bangun), prasasti, hasil kesusastraan. Berikut beberapa peninggalan sejarah yang bercorak Hindu- Budha.

a. Seni bangunan
Peninggalan-peninggalan sejarah ada beberapa jenisnya, seperti komplek percandian, pemandian, keraton, makam. Candi adalah peninggalan berupa komplek bangunan yang bersifat Hindu, sedangkan yang bersifat Budhis disebut Stupa, Stupika. Diantara candi-candi Hindu, di Jawa Tengah terdapat candi
a. Candi
1) Candi Peninggalan Kerajaan Mataram Lama
Candi yang bersifat Hindu

* Candi Gunung Wukir, terletak di sebelah selatan Muntilan
* Kelompok Candi Dieng, terletak di Kabupaten Wonosobo. Dikelompok candi ini trdapat beberapa candi yang oleh penduduk setempat diberi nama tokoh wayang, misalnya : Bima, Gatotkaca, Puntadewa, Arjuna, Semar, dan lain-lain
* Candi Selogriyo, terletak di kaki Gunung Sumbing
* Candi Pringapus, terletak di timur Gunung Sundoro
* Kelompok Candi Gedong Songo, terletak di lereng Gunung Ungaran
* Candi Perot, terletak di lereng Gunung Sumbing
* Candi Argopuro, terletak di lereng Gunung Sumbing
* Candi Ijo, terletak di dekat Prambanan
* Candi Gebang, terletak di dekat Yogyakarta
* Candi Sambisari, terletak di dekat Yogyakarta
* Kelompok Candi Lorojonggrang ( Prambanan ), terletak di perbatasan Yogyakarta-Klaten.Di kelompok ini ada 3 candi induk, Candi Syiwa, Candi Brahma, dan Candi Wisnu.

Candi yang bersifat Budha,bercorak budha,bermitologi budha,bernuansa arsitektur budha dan ajaran budha :

* Candi Borobudur, terletak di Kabupaten Magelang
* Candi Kalasan, terletak di kabupaten sleman. Dibangun oleh Raja Panangkaran.
* Candi Sari, terletak di dekat Candi Kalasan.
* Candi Banyunibo, terletak di dekat Prambanan.
* Candi Sajiwan, terletak didekat Prambanan. Candi ini untuk menghormat Awalokiteswara.
* Candi Plaosan, terletak di dekat prambanan. Dibangun pada masa Raja Pikatan
* Candi Sewu, terletak didekat Prambanan
* Candi Bubrah, terletak didekat Prambanan
* Candi Lumbung, terletak didekat Prambanan
* Candi Asu, terletak didekat Candi Sewu
* Candi Ngawen, terletak di dekat Muntilan. Candi ini dibuat oleh raja yang beragama Hindu, dan diperuntukan untuk umat yang beragama Budha
* Candi Mendut, terletak di kabupaten Magelang. Di dalamnya terdapat PAtung Padmapani dan Wajrapani
* Candi Pawon (Bajranalan), terletak di kabupaten Magelang. Di bangun oleh Pramodhawardhani.

2) Candi Peninggalan Kerajaan Medang (Dinasti Isyana)

* Candi Lor (Anjuk Ladang),terletak di Brebek, Nganjuk.
* Candi Gunung Gangsir, terletak di di Bangil.
* Candi Songgoroti, terletak di Batu Malang
* Candi Sumber Nanas, terletak di Blitar
* Candi Belahan, dibangun oleh Raja Airlingga
* Pertapaan Pucangan, terletak di Gunung Penanggungan

3) Candi Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

* Kelompok Candi Muara Takus, terletak di Bangkinang, Tampar, Riau
* Kelompok CAndi Gunung Tua, terletak di padang sidempuan, Tapanuli, Sumatra Utara.
* Di kelompok ini ada 1 candi yang bentuknya khas, yaitu Candi Biaro Bahal

4) Candi Peninggalan Kerajaan Singasari

* Candi Kidal, terletak di Malang
* Candi Jawi, terletak di dekat Pringen
* Candi Singasari, terletak di Malang
* Candi Jago, terletak di Malang

5) Candi Peninggalan kerajaan Majapahit

* Candi Simping
* Candi Rimbi, terletak di Mojokerto
* Candi Panggih
* Candi Surawana, terletak di Kediri
* Candi Tigawangi, terletak di Pare
* Candi Kalicilik, terletak di Blitar
* Candi Jabung, terletak di Kraksaan, Probolinggo
* Candi Pari, terletak di Porong
* Candi Tikus, terletak di Mojokerto
* Candi Brahu, terletak di Mojokerto
* Candi Panataran, terletak di Blitar
* Candi Sukuh, terletak di Karanganyar. Candi ini menunjukan unsure Jawa asli
* Candi Samentar, terletak di Blitar

6) Candi Peninggalan Kerajaan Kanjuruhan

* Candi Badut, terletak di Malang

7) Candi Peninggalan Kerajaan Bali

* Kompleks Candi Gunung Kawi, terletak di Tampaksiring

b. Pertirtaan
Pertirtaan merupakan pemandian suci untuk raja dan para bangsawan.
Contoh petirtaan yang penting adalah :

* Petirtaan Jalatunda, terletak di lereng barat Gunung Pananggungan. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Airlangga
* Pertirtaan Belahan, terletak di lereng timur Gunung Pananggungan. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Airlangga
* Pertirtaan di Candi Tikus, terletak di Trowulan, Mojokerto
* Petirtaan Gua Gajah, terletak di Gianyar, Bali
* Petirtaan Tirta Empul. Terletak di desa Manukaya, Tampaksiring, Bali.

c. Benteng
Istana kerajaan umumnya dibangun di balik benteng yany kuat
Benteng ada 2 macam, yaitu :

* Benteng Buatan, dibangun dengan sengaja berwujud tembok, parit yang dalam dan ebar
* Benteng alam, yamg berwujud sungai atau pegunungan. Contoh benteng alam adalah benteng yang terdapat di Bukit Ratu Boko yang dikenal dengan nama Candi Ratu Boko. Candi ini dibangun oleh Balaputradewa.

d. Gapura
Ada 2 macam bentuk gapura :

* Kori Agung, yaitu berupa bangunan seperti candi yang di tengahnya terdapat pintu untuk keluar masuk. Contoh Kori Agung, antara lain : Candi Jedong, Candi Plumbangan, dan Candi Bajang Ratu.
* Candi Bentar, yaitu semacam candi yang dibelah dua, ditengahnya untuk jalan keluar masuk. Contoh candi bentar adalah Candi Wringin Lawang

Candi Prambanan.
Candi Prambanan merupakan peninggalan yang bersifat Hindu yang didirikan abad ke VIII M. Candi ini terletak di desa Prambanan Sleman, Jogjakarta. Candi ini adalah candi Hindu. Fungsinya adalah sebagai tempat pemujaan (kuil).
Candi ini terdiri dari Candi Siwa, Candi Brahma dan Candi Wisnu
. Bangunan candi yang tertinggi adalah yang di tengah yang bersifat Siwa. Pada ruangan candi kita menemukan arca Durga Mahisasuramardini. Arca ini juga dikenal juga dengan nama Roro Jongrang. Pada dinding candi Prambanan terdapat relief yang menggambarkan cerita Ramayana. Selain candi Prambanan di Jawa Tengah masih terdapat candi Hindu di Jawa Tengah seperti candi Gedong Sango, percandian Dieng, Ratu Baka, Candi Kalasan dan sebagainya. Di Jawa Timur terdapat candi Singasari, candi Kidal, Candi Panataran, dan kompleks percandian di Trowulan Mojokerto.

Disamping candi Hindu, juga terdapat banyak peninggalan yang bersifat Budhis. Pada masa kerajaan Sriwijaya ditemukan candi Muara takus di daerah Jambi. Di Jawa Tengah ada Stupa Borobudur, candi Mendut dan candi Pawon. Bangunanbangunan ini berfungsi sebagai tempat ibadah. Sampai sekarang peninggalan-peninggalan tersebut masih dipergunakan oleh umat Budha untuk pelaksanaan upacara memperingati hari Waisak.
Peninggalan-peninggalan sejarah ada beberapa jenisnya, seperti komplek percandian, pemandian, keraton, makam.
Candi adalah peninggalan berupa komplek bangunan yang bersifat Hindu, sedangkan yang bersifat Budhis disebut Stupa, Stupika. Candi Prambanan merupakan peninggalan yang bersifat Hindu sedangkan Stupa Borobudur bersifat Budha. Kedua monumen tersebut terletak di Jawa Tengah.

b. Seni Rupa dan Seni Ukir.

Pengaruh India membawa perkembangan dalam bidang seni rupa dan seni ukir atau pahat. Hal ini disebabkan adanya akulturasi. Misalnya relief yang dipahatkan pada dinding candi Borobudur yang merupakan relief tentang riwayat Sang Budha. Relief ini dikenal dengan Karma Wibangga yang dipahatkan dalam salah satu dinding Studa Borobudur.

c. Seni Sastra dan Aksara
Hasil sastra berbentuk prosa atau puisi : isinya antara lain tentang tutur (pitutur : kitab keagamaan), wiracarita (kepahlawanan), kitab Hukum (Undang-Undang).
Wiracarita yang terkenal di Indonesia yaitu Kitab Ramayana dan Mahabarata. Timbul wiracarita gubahan pujangga Indonesia. Misalnya, Kitab Baratayuda yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh.
Perkembangan aksara, perkembangan huruf Pallawa dari India ke Indonesia, mengakibatkan berkembangnya karya-karya sastra. Misal, karya-karya sastra Jawa kuno. Huruf Nagari (dari India) disertai huruf Bali kuno (dari Indonesia).

d. Sistem Kemasyarakatan.
Sistem kasta merupakan penggolongan masyarakat berdasarkan tingkat atau derajad orang yang bersangkutan. Setiap orang sudah ditentukan kastanya. Sistem kasta ini muncul dalam masyarakat Indonesia setelah ada hubungan dengan India. Terdapat empat kasta yaitu kasta Brahmana, Ksatria, Weisya dan Sudra. Sistem kasta ini bukan asli Indonesia.

e. Filsafat dan Sistem Kepercayaan.
Kepercayaan asli bangsa Indonesia adalah animisme dan dinamisme. percaya adanya kehidupan

sesudah mati, yakni sebagai roh halus. Kehidupan roh halus memiliki kekuatan maka roh nenek moyang dipuja. Masuknya pengaruh India tidak menyebabkan
pemujaan terhadap roh nenek moyang hilang. Hal ini dapat dilihat pada fungsi candi. Fungsi candi di India sebagai tempat pemujaan. Di Indonesia, selain sebagai tempat pemujaan, candi juga berfungsi sebagai makam raja dan untuk menyimpan abu jenazah raja yang telah wafat.
Dapat terlihat adanya pripih tempat untuk menyimpan abu jenazah, dan diatasnya didirikan patung raja dalam bentuk mirip dewa. Hal tersebut merupakan perpaduan antara fungsi candi di India dengan pemujaan roh nenek moyang di Indonesia.

f. Sistem Pemerintahan
Pengaruh India di Indonesia dalam sistem pemerintahan, adalah adanya sistem pemerintahan secara sederhana.
Setelah pengaruh India masuk, kedudukan pemimpin tersebut diubah menjadi raja serta wilayahnya disebut kerajaan. Rajanya dinobatkan dengan melalui upacara Abhiseka, biasanya namanya ditambah “warman”. Contoh: di Kerajaan Kutai, Taruma dan sebagainya.
Bukti akulturasi di bidang pemerintahan, misalnya : raja harus berwibawa dan dipandang punya kesaktian (kekuatan gaib), seperti para Raja disembah menunjukkan adanya pemujaan Dewa Raja.

SEJARAH KERAJAAN GOWA || SEJARAH INDONESIA

SEJARAH KERAJAAN GOWA

A.Asal-Usul Dan Perkembangan Kerajaan Gowa
1.Masa Sebelum Tumanurung
Sebelum zaman Tumanurung, ada empat raja yang pernah mengendalikan Pemerintahan Gowa yakni : Batara Guru, saudara Batara Guru yang dibunuh oleh Tatali (tak diketahui nama aslinya), Ratu Sapu atau Marancai dan Karaeng Katangka (Nama aslinya tak diketahui).
Keempat raja tersebut tak diketahui asal-usulnya serta masa pemerintahannya. Tapi mungkin pada masa itu, Gowa purba terdiri dari 9 kasuwiang ( kasuwiyang salapang) mungkin pula lebih yang dikepalai seorang penguasa sebagai raja kecil. Setelah pemerintahan Karaeng katangka, maka sembilan kerajaan kecil bergabung dalam bentuk pemerintahan federasi yang diketuai oleh Paccalaya.

2.Masa Tumanurung
Berdasarkan hasil penelitian sejarah, baik melalui lontarak maupun cerita yang berkembang di masyarakat, dapat diketahui bahwa munculnya nama Gowa dimulai pada tahun 1320, yakni pada masa pemerintahan Raja Gowa pertama bernama Tumanurunga.
Konon, sebelum Tumanurunga hadir di Butta Gowa, ada sembilan negeri kecil yang kini lebih dikenal dengan istilah Kasuwiang Salapanga yakni : Kasuwiang Tombolo, Lakiung, Samata, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, Kalling dan Sero. Kesembilan negeri tersebut mengikatkan diri dalam bentuk persekutuan atau pemerintahan federasi dibawa pengawasan Paccallaya (Ketua Dewan Pemisah).
Walaupun mereka bersatu, tetapi ke sembilan negeri tersebut sering dilanda perang saudara antara Gowa di bagian utara dan Gowa di bagian selatan. Paccallaya sebagai ketua federasi tak sanggup mengatasi peperangan tersebut. Hal tersebut karena Paccallaya hanya berfungsi sebagai lambang yang tidak memiliki pengaruh kuat terhadap anggota persekutuan yang masing-masing punya hak otonom.
Untuk mengatasi perang saudara tersebut, diperlukan seorang pemimpin yang kharismatik dan dapat diterima oleh kesembilan kelompok tersebut. Terdengarlah berita orang Paccallaya, bahwa ada seorang putri yang turun di atas bukit Tamalate tepatnya di Taka’bassia. Saat penantian, orang-orang yang berada di Bonto Biraeng melihat seberkas cahaya dari utara bergerak perlahan-lahan turun menuju Taka’bassia.
Kejadian itu cepat diketahui oleh Gallarang Mangasa dan bolo yang memang diserahi tugas mencari tokoh yang bisa menjadi pemersatu kaum yang berseteru itu. Paccalaya bersama ke sembilan kasuwiang bergegas ke Taka’bassia. Di sana mereka duduk mengelilingi cahaya sambil bertafakur. Cahaya itu kemudian menjelma menjadi seorang putri yang cantik jelita disertai pakaian kebesarannya antara lain berupa mahkota.
Baik Paccalaya maupun Kasuwiang tak mengetahui nama putri tersebut, sehingga mereka sepakat memberi nama Tumanurung Bainea atau Tumanurung, artinya orang (wanita) yang tidak diketahui asal usulnya.
Karena putri ratu tersebut memiliki keajaiban, Paccalaya dan Kasuwiang Salapang sepakat untuk mengangkat Tumanurung sebagai rajanya. Paccalaya kemudian mendekati Tumanurunga seraya bersembah “Sombangku!” (Tuanku), kami datang semua ke hadapan sombangku, kiranya sombangku sudi menetap di negeri kami dan menjadi raja di negeri kami.
Permohonan Paccalaya tersebut dikabulkan, dan berseru “Sombai Karaengnu tu Gowa (Sombalah rajamu hai orang Gowa). Baik Kasuwiang maupun warga yang ada di sekitar itu berseru “Sombangku”. Setelah Tumanurunga resmi menjadi Raja Gowa pertama pada tahun 1320 negeri Gowa kembali menjadi aman.
Masa pemerintahan Tumanurunga berlangsung sejak tahun 1320-1345. Diriwayatkan, Tumanurunga kemudian kawin dengan Karaeng Bayo, yaitu seorang pendatang yang tidak diketahui asal usulnya. Hanya dikatakan berasal dari arah selatan bersama temannya Lakipadada. Dari hasil perkawinan tersebut lahirlah Tumassalangga Baraya yang nantinya menggantikan ibunya menjadi raja Gowa kedua (1345-1370).
Menjelang abad XVI, pada masa pemerintahan Raja Gowa VI, Tunatangka Lopi, membagi wilayahnya menjadi dua bagian terhadap dua orang putranya, yaitu Batara Gowa dan Karaeng Loe Ri Sero. Batara Gowa melanjutkan kekuasaan ayahnya yang meninggal dunia. Wilayahnya meliputi (1) Paccelekang, (2) Patalassang, (3) Bontomanai Ilau, (4) Bontomanai Iraya, (5) Tombolo, dan (6) Mangasa.
Adiknya, Karaeng Loe ri Sero, mendirikan kerajaan baru yang bernama kerajaan Tallo dengan wilayah sebagai berikut: (1) Saumata,(2) Pannampu, (3) Moncong Loe, dan (4) Parang Loe.
Beberapa kurun waktu, kedua kerajaan itu terlibat pertikaian dan baru berakhir pada masa pemerintahan Raja Gowa IX Karaeng Tumapakrisik Kallonna. Setelah melalui perang, beliau berhasil menaklukkan pemerintahan raja Tallo III I Mangayaoang Berang Karaeng Tunipasuru. Sejak itu, terbentuklah koalisi antara Kerajaan Gowa dan Tallo, dengan ditetapkannya bahwa Raja Tallo menjadi Karaeng Tumabbicara butta atau Mangkubumi (Perdana menteri) Kerajaan Gowa. Begitu eratnya hubungan kedua kerajaan ini sebagai kerajaan kembar, sehingga lahir pameo di kalangan rakyat Gowa dan Tallo dalam peribahasa “Dua Raja tapi hanya satu rakyat (Ruwa Karaeng Se’re Ata). Kesepakatan ini diperkuat oleh sebuah perjanjian yang dibuat dua kerajaan ini ,”iami anjo nasitalli’mo karaenga ri Gowa siagang karaenga ri Tallo, gallaranga iangaseng ribaruga nikelua. Ia iannamo tau ampasiewai Goa-Tallo, iamo macalla rewata”.

3.Masa Perkembangan Kerajaan Gowa
Pada permulaan abad ke-XVI kerajaan Gowa mengalami kemajuan di bidang Ekonomi dan politik pada masa pemerintahan Raja Gowa IX Daeng Matanre Karaeng Manguntungi bergelar “Tumapakrisik Kallonna”, dan dipindahkanlah Ibukota dari istana kerajaan dari Tamalate ke Somba Opu.
Disana beliau membangun sebuah dermaga yang menjadikan Gowa sebagai Kerajaan Maritim yang terkenal di wilayah nusantara bahkan sampai ke luar negeri. Bandar niaga Somba Opu dijadikan bandar transito sehingga ramai dikunjungi pedagang dari luar negeri.
Pada masa Karaeng Tumapakrisik Kallonna itu pula, Gowa telah berhasil memperluas daerah kekuasaannya dengan menaklukkan berapa daerah di sekitarnya, seperti Garassi, Katingan, Mandalle, Parigi, Siang (Pangkajene), Sidenreng, Lempangan, Bulukumba, Selayar, Panaikang, Campaga, Marusu, Polongbangkeng (Takalar), dan lain-lain. selanjutnya Sanrobone, Jipang, Galesong, Agang Nionjok, Tanete (Barru), Kahu, dan Pakombong dijadikannya sebagai Palilik atau kerajaan taklukan Gowa tetapi masih diberi kesempatan memerintah. Mereka diwajibkan membayar sabbukati (bea perang) dan mengakui supremasi Kerajaan Gowa.
Pada masa Karaeng Tumapakrisik Kallonna ini pula, Gowa mulai dikenal sebagai bandar niaga yang ramai dikunjungi dan disinggahi oleh kapal-kapal untuk melakukan bongkar muat rempah-rempah. Setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511, banyak pedagang dari negara asing yang berdatangan ke Makassar, termasuk orang Melayu pada tahun 1512, juga orang Portugis yang pertama datang ke Makassar (Gowa –Tallo) menjalin hubungan persahabatan dan perdagangan pada tahun 1538. Orang Portugis inilah yang banyak mendapati kapal-kapal Makassar berkeliaran di sekeliling perairan Nusantara, bahkan sampai ke India, Siam (Muangthai) dan Filipina Selatan.
Untuk memperkuat pertahanan dan kedudukan istana di Somba Opu, Karaeng Tumapakrisik Kallonna memerintahkan untuk membangun sebuah benteng dari gundukan tanah yang mengelilingi istana pada tahun 1525. Benteng tersebut sekarang lebih dikenal dengan nama Benteng Somba Opu. Putra Karaeng Tumapakrisik Kallonna sebagai Raja Gowa X Karaeng Tunipallangga Ulaweng selanjutnya merenovasi benteng tersebut dengan tembok bata serta membangun benteng pertahanan lainnya, antara lain benteng Tallo, Ujung Tanah, Ujung Pandang, Mariso, Panakukang, Garassi, Galesong, Barombong, Anak Gowa dan Kalegowa.
Setelah karaeng Tumapakrisik Kallonna wafat, beliau digantikan oleh puteranya I Manriogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565) sebagai Raja Gowa X beserta mengkubuminya Nappakata`tana Daeng Padulung (Raja Tallo), melanjutkan cita-cita ayahandanya. Beliau memperkuat benteng-benteng pertahanan kerajaan dengan menjadikan Benteng somba Opu sebagai benmteng utama. Politik ekspansinya berjalan dengan baik. Kerajaan yang tidak mau tunduk pada pengaruh Gowa dianggap sebagai saingan yang harus ditaklukkan. Oleh karena itu Ia menyerang Bone yang waktu itu di bawah kekuasaan Raja bone VII, La Tenrirawe Bongkange Matinro Ri Gucina.
Setelah Tonipallangga meninggal dunia, Ia digantikan oleh Tonibatta (1565) sebagai Raja Gowa XI. Nama lengkapnya adalah I Tajibarani Daeng Marompa, Karaeng Data, Tonibatta. Baginda adalah yang paling pendek masa jabatannya, yakni hanya 40 hari. Baru saja menduduki tampuk kekuasaan, ia langsung mengadakan ekspansi ke kerajaan Bone. Tonibatta tewas dalam keadaan tertetak sehingga digelar Tonibatta.
Jenazah Baginda dikembalikan ke Gowa diiringi pembesar-pembesar terkemuka kerajaan Bone. Beberapa saat setelah upacara berkabung selesai, dilakukanlah perundingan perdamaian antara kedua kerajaan. Perjanjian itu biasa disebut Ulukanaya ri Caleppa ( kesepakatan di caleppa). Setelah perundingan selesai, Raja Bone beserta penasehatnya Kajaolalido langsung ke Gowa mengikuti pelantikan Raja Gowa XII, Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tonijallo (1565-1590).
Keadaan damai dimanfaatkan oleh kerajaan bone untuk menyusun aliansi Tellunpoccoe atau “tiga puncak kerajaan Bugis” untuk menghadapi agresi Gowa. Tonijallo memandang aliansi ini sebagai ancaman langsung terhadap supremasi Gowa. Oleh karena itu, pada tahun 1583 ia melancarkan serangan terhadap Wajo. Tujuh tahun kemudian 1590, serangan dilanjutkan kembali tetapi Gowa tetap tidak mampu mengalahkan Tellumpoccoe. Tonijallo sendiri tewas diamuk oleh pengikutnya.
Sepeninggal Tonijallo, Ia digantikan oleh I Tepu Karaeng Daeng Parambung Karaeng ri Bontolangkasa Tonipasulu sebagai Raja Gowa XIII (1590-1593). Tidak banyak aktifitas yang dilakukannya sebab ia hanya memerintah selama tiga tahun, kemudian dipecat dari jabatannya. Pemecatan dilakukan karena banyak perbuatannya yang buruk, seperti pembunuhan dan pemecatan pejabat kerajaan secara semena-mena.
Pengganti tonipasulu adalah saudaranya I Manggerangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tu Menanga ri Gaukanna, Raja Gowa ke-14, putra Tunijallo. Beliau dinobatkan ketika berumur 7 tahun . Oleh karena itu, pemerintahan kerajaan dijalankan oleh Mangkubumi/Raja Tallo-I yang bernama I Mallingkaang Daeng Manyonri` Karaeng Katangka, Karaeng Matoaya, Tumenanga Ri Agamana, Sultan Awwalul Islam.

4.Islamisasi Kerajaan Gowa
Penerimaan Islam pada beberapa tempat di Nusantara memperlihatkan dua pola yang berbeda. Pertama, Islam diterima oleh masyarakat bawah, kemudiaan berkembang dan diterima oleh masyarakat lapisan atas disebut bottom up. Kedua, Islam diterima langsung oleh elite penguasa kerajaan kemudian disosialisasikan dan berkembang pada lapisan masyarakat bawah disebut top down. Penerimaan Islam di Gowa menurut penulis sejarah Islam, memperlihatkan pola yang kedua.
Kerajaan yang mula-mula memeluk Islam dengan resmi di Sulawesi Selatan adalah kerajaan kembar Gowa-Tallo. Tanggal peresmian Islam itu menurut lontara Gowa dan Tallo adalah malam Jum’at, 22 September 1605, atau 9 Jumadil Awal 1014 H. Dinyatakan bahwa Mangkubumi kerajaan Gowa / Raja Tallo I Mallingkaeng Daeng Manyonri mula-mula menerima dan mengucapkan kalimat Syahadat (Ia di beri gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam) dan sesudah itu barulah raja Gowa ke-14 Mangenrangi Daeng Manrabia (Sultan Alauddin). Dua tahun kemudian seluruh rakyat Gowa-Tallo memeluk agama Islam berdasar atas prinsip cocius region eius religio, dengan diadakannya shalat Jumat pertama di masjid Tallo tanggal 9 November 1607 / 19 Rajab 1016 H.
Adapun yang mengislamkan kedua raja tersebut ialah Datu ri Bandang (Abdul Makmur Chatib Tunggal) seorang ulama datang dari Minangkabau (Sumatera) ke Sulawesi Selatan bersama dua orang temannya yakni Datu Patimang (Chatib Sulaeman) yang mengislamkan pula Raja Luwu La Pataware Daeng Parabung dan Datu ri Tiro (Chatib Bungsu) yang menyebar Agama Islam di Tiro dan sekitarnya.
Sekitar enam tahun kemudian, kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan pun menerima Islam. Penyebarannya di dukung oleh Kerajaan Gowa sebagai pusat kekuatan pengislaman. Kerajaan bugis seperti Bone, Soppeng, Wajo dan Sidenreng, berhubung karena menolak, akhirnya Raja Gowa melakukan perang, karena juga dianggap menentang kekuasaan Raja Gowa. Setelah takluk, penyebaran Islam dapat dilakukan dengan mudah di Kerajaan Bugis.

B. Zaman Keemasan
Setelah Kerajaan Gowa menerima Islam, semakin menapak puncak kejayaannya. Pada masa pemerintahan Raja Gowa XV I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Ujung Karaeng Lakiung Sultan Malikulsaid (1639-1653), kekuasaan dan pengaruhnya kian meluas dan diakui sebagai pemegang hegemoni dan supremasi di Sulawesi Selatan, bahkan kawasan Timur Indonesia.
Kemashuran Sultan Malikulsaid sampai ke Eropa dan Asia, terutama karena pada masa pemerintahannya, dia ditunjang oleh jasa-jasa Karaeng Pattingalloang sebagai Mangkubuminya yang terkenal itu, baik dari segi sosok kecendiakawanannya maupun keahliannya dalam berdiplomasi. Tidak heran, Gowa ketika itu telah mampu menjalin hubungan internasional yang akrab dengan raja-raja dan pembesar dari negara luar, seperti Raja Inggris, Raja Kastilia di Spanyol, Raja Portugis, Raja Muda Portugis di Gowa (India), Gubernur Spayol dan Marchente di Mesoliputan (India), Mufti Besar Arabia dan terlebih lagi dengan kerajaan-kerajaan di sekitar Nusantara.
Kerjasama dengan bangsa-bangsa asing, terutama Eropa sejak Somba Opu menjadi Bandar Niaga Internasional. Bangsa Eropa gemar dengan rempah-rempah telah menjalin hubungan dagang dengan Gowa, seperti Inggris, Denmark, Portugis, Spanyol, Arab, dan Melayu. Mereka telah mendirikan kantor perwakilan dagang di Somba Opu. Dari tahun ke tahun hubungan Kerajaan Gowa dengan bangsa Eropa tidak mengalami ronrongan. Barulah terganggu setelah kehadiran orang-orang Belanda yang ingin memonopoli perdagangan dan menjajah.
Tanggal 5 November 1653 Sultan Malikulsaid wafat setelah mengendalikan pemerintahan Gowa selama 16 tahun. Beliau digantikan oleh puteranya I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin yang menjadi raja Gowa XVI (1653-1669). Dimasa Hasanuddin inilah ketegangan Gowa dengan Belanda kian meruncing. Hal tersebut karena sikap beliau sangat tegas dan tak mau tunduk pada Belanda. Tahun 1654-1655 terjadi pertempuran hebat antara Gowa dan Belanda di kepulauan Maluku. April 1655 armada Gowa yang langsung dipimpin Hasanuddin menyerang Buton, dan berhasil mendudukinya serta menewaskan semua tentara Belanda di negeri itu.
Setelah Belanda melihat kenyataan peperangan di Kawasan Timur Nusantara banyak menimbulkan kerugian menghadapi Gowa. Belanda dengan berbagai siasat menawarkan perdamaian. Tahun 1655 Belanda mengutus Willem Vanderbeck bersama Choja Sulaeman menghadap Sultan membawa pesan damai dari Gubernur jenderal Joan Maectsuyker tetapi tidak berhasil. Tanggal 17 Agustus 1655 tercapai perjanjian perdamaian 26 pasal sebagai hasil perundingan antara utusan Gowa yang diwakili Karaeng Popo dengan Gubernur Jenderal Belanda yang diwakili Dewan Hindia, Van Oudshoon. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Panglima perang Belanda Mayor Van Dam di Batavia.
Perjanjian itu kemudian oleh Sultan dianggap sangat merugikan Gowa, terutama atas pasal larangan orang-orang Makassar berdagang di Banda dan Ambon, maka Gowa akhirnya menolak perjanjian itu. Tanggal 20 November 1655 utusan Gubernur Jenderal Joan Maetsyuiker untuk sekian kalinya mencoba lagi menawarkan perdamaian dengan mengutus van Wesenhager, tetapi Gowa menolaknya karena tuntutannya merugikan Gowa. Demikian berbagai siasat perdamaian yang diajukan Belanda selalu gagal sehingga permusuhan tidak terelakkan, sehingga terjadi pertempuran poun terus bergolak antara Gowa dengan Belanda, mulai dari perairan Maluku, Banda sampai Makassar.
Karena Belanda putus asa menghadapi kegigihan rakyat Gowa dibawa pimpinan Sultan Hasanuddin, maka pada bulan Oktober 1666 Belanda menggerakkan armada persenjataannya yang paling kuat dibawa pimpinan Cornelis Speelman ke perairan Indonesia bagian timur, guna meruntuhkan kerajaan Gowa dan pengaruh hegemoninya. Dengan dibantu pasukan Bone dan pengikut Aruppalakka, dan pasukan Ambon dibawa pimpinan Kapten Yonker dalam perang melawan Gowa. Posisi Gowa saat itu, tidak hanya berperang melawan bangsa asing tetapi juga bangsanya sendiri.
Tahun 1667 perang besarpun bergolak antara Pasukan Gowa dengan Belanda. Karena kekuatan tidak seimbang, menyebabkan benteng milik Gowa satu persatu direbut Belanda dan sekutunya, seperti benteng galesong, Barombong melalui pertempuran sengit yang banyak menelan korban kedua belah pihak.
Melihat Gowa dalam posisi yang kurang menguntungkan, Speelman mengajukan tawaran perundingan. Tawaran tersebut diterima Sultan dengan pertimbangan, bukan karena takut berperang tetapi demi menghindari bertambahnya pertumpahan darah yang lebih banyak di kalangan orang-orang Makassar maupun sesama bangsa sendiri. Atas pertimbangan itu, Sultan Hasanuddin terpaksa menerima perdamaian dengan Belanda dengan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.
Dengan perjanjian Bongaya, Rakyat Gowa sangat dirugikan maka perangpun kembali berkecamuk. Pertempuran hebat itu membuat Belanda cemar, sehingga menambah bala bantuan dari batavia. Dalam pertempuran dahsyat Juni 1669 yang cukup banyak menelan korban di kedua belah pihak, akhirnya Belanda berhasil merebut benteng pertahanan yang paling kuat di Somba Opu. Benteng Somba Opu diduduki Belanda sejak 12 Juni 1669 dan kemudian dihancurkan, setelah pasukan Gowa mempertahankannya dengan gagah berani.
Perkembangan selanjutnya setelah Sultan Hasanuddin, Raja-raja Gowa masih terus melakukan perlawanan dengan Belanda. Hal itu dibuktikan dengan gigihnya perlawanan Raja Gowa XVIII Sultan Muhammad Ali (Putra Sultan Hasanuddin) yang gugur dalam tahanan Belanda di Batavia (Jakarta) pada tahun 1680. Raja Gowa XXVI Batara Gowa II setelah tertangkap dan diasingkan ke Sailon. Tidak terhitung putra-putri terbaik Gowa lainnya telah berjuan dan gugur di medan perang membela tanah airnya.

C. Masa Kemunduran dan Keruntuhan
Peperangan demi peperangan melawan Belanda dan bangsanya sendiri (Bone) yang dialami Gowa, membuat banyak kerugian. Kerugian itu sedikit banyaknya membawa pengaruh terhadap perekonomian Gowa. Sejak kekalahan Gowa dengan Belanda terutama setelah hancurnya benteng Somba Opu, maka sejak itu pula keagungan Gowa yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya akhirnya mengalami kemunduran. Akibat perjanjian Bongaya, pada tahun 1667 sultan Hasanuddin Tunduk. Dalam perjanjian itu, nyatalah kekalahan Makassar. Pardagangannya telah habis dan negeri-negeri yang ditaklukkannya harus dilepaskan. Apalagi sejak Aru Palakka menaklukkan hampir seluruh daratan Sulawesi Selatan dan berkedudukan di Makassar, maka banyak orang Bugis yang pindah di Makassar. Sejak itu pula penjajahan Belanda mulai tertanam secara penuh di Indonesia.
Makassar, sebagai ibukota kerajaan Gowa mengalami pengalihan-pengalihan baik dari segi penguasaan maupun perkembangan-perkembangannya. Pengaruh kekuasaan gowa makin lama makin tidak terasa di kalangan penduduk Makassar yang kebanyakan pengikut Aru Palaka dan Belanda . benteng Somba Opu yang selama ini menjadi pusat politik menjadi kosong dan sepi. Pemerintahan kerajaan Gowa yang telah mengundurkan diri dari Makassar ( Yang berada dalam masa peralihan) ke Kale Gowa dan Maccini Sombala tidak dapat dalam waktu yang cepat memulihkan diri untuk menciptakan stabilitas dalam negeri. Namun demikian Sultan Hasanuddin telah menunjukkan perjuangannya yang begitu gigih untuk membela tanah air dari cengkraman penjajah. Sebagai tanda jasa atas perjuangan Sultan Hasanuddin, Pemerintah Republik Indonesia atas SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 10 November 1973 menganugerahi beliau sebagai Pahlawan Nasional.
Demikian Gowa telah mengalami pasang surut dalam perkembangan sejak Raja Gowa pertama, Tumanurung (abad 13) hingga mencapai puncak keemasannya pada abad XVIII kemudian sampai mengalami transisi setelah bertahun-tahun berjuang menghadapi penjajahan. Dalam pada itu, sistem pemerintahanpun mengalami transisi di masa Raja Gowa XXXVI Andi Idjo Karaeng Lalolang, setelah menjadi bagian Republik Indonesia yang merdeka dan bersatu, berubah bentuk dari kerajaan menjadi daerah tingkat II Otonom. Sehingga dengan perubahan tersebut, Andi Idjo pun tercatat dalam sejarah sebagai Raja Gowa terakhir dan sekaligus Bupati Gowa pertama




Sejarah gowa dan tallo Presentation Transcript
  • 1. Sumber asing terulis pertama dari Barat berasal dari catatan Tome Pires. Dia menyebutkan tentang bagaimana kemapuan pelayaran dan perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang Makassar. Dalam buku Islamisasi kerajaan Gowa, Prof. DR. Ahmad M. Swang, M.A ( 2005; 72) Tome Pires dalam perjalanannya dari Malaka ke Laut Jawa pada tahun 1513 telah menemukan orang-orang Makassar sebagai pelaut ulung. Keterangan ini dianggap keterangan tertulis Barat yang tertua. Pires menyebutkan: “Orang-orang Makassar telah berdagang sampai ke Malaka, Jawa, Borneo, Negeri Siam dan juga semua tempat yang terdapat antara Pahang dan Siam, dalam Prof. DR. Ahmad M. Swang, M.A ( 2005; 72)” Sumber berita dari catatan Tome Pires mungkin lebih menitikberatkan kepada sebuah kerajaan di Sulawesi belum resmi memeluk agama Islam, karena secara resmi kedua raja dari Gowa dan Tallo memeluk agama Islam pada tanggal 22 September 1605 M. Negeri tersebut kaya akan beras putih dan juga bahan-bahan makanan lainnya, banyak daging dan juga banyak kapur barus hitam. Mereka memasok barang dagangan dari luar, antara lain jenis pakaian dari Cambay, Bengal, dan Keling. Mengingat jaringan perdagangan dari Cina sudah lama, barang-barang berupa keramik juga diimpor dan hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya temuan keramik dari masa Dinasti Sung dan Ming dari daerah Sulawesi Selatan.
  • 2. Pada awalnya di daerah Gowa terdapat sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama Bate Salapang (Sembilan Bendera), yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. Melalui berbagai cara, baik damai maupun paksaan, komunitas lainnya bergabung untuk membentuk Kerajaan Gowa. Cerita dari pendahulu di Gowa dimulai oleh Tumanurung sebagai pendiri Istana Gowa, tetapi tradisi Makassar lain menyebutkan empat orang yang mendahului datangnya Tumanurung, dua orang pertama adalah Batara Guru dan saudaranya Kesultanan Gowa atau kadang ditulis Goa, adalah salah satu kerajaan besar dan paling sukses yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah kerajaan ini sekarang berada di bawah Kabupaten Gowa dan beberapa bagian daerah sekitarnya. Kerajaan ini memiliki raja yang paling terkenal bergelar Sultan Hasanuddin, yang saat itu melakukan peperangan yang dikenal dengan Perang Makassar (1666-1669) terhadap VOC yang dibantu oleh Kerajaan Bone yang dikuasai oleh satu wangsa Suku Bugis dengan rajanya Arung Palakka. Perang Makassar bukanlah perang antarsuku karena pihak Gowa memiliki sekutu dari kalangan Bugis; demikian pula pihak Belanda-Bone memiliki sekutu orang Makassar. Perang Makassar adalah perang terbesar VOC yang pernah dilakukannya di abad ke-17.
  • 3. Peta wilayah Kerajaan Gowa dan TalloKerajaan Gowa dan Tallo lebih dikenal dengan sebutanKerajaan Makassar. Kerajaan ini terletak di daerah SulawesiSelatan. Makassar sebenarnya adalah ibukota Gowa yangdulu disebut sebagai Ujungpandang. Secara geografisSulawesi Selatan memiliki posisi yang penting, karena dekatdengan jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Bahkandaerah Makassar menjadi pusat persinggahan parapedagang, baik yang berasal dari Indonesia bagian timurmaupun para pedagang yang berasal dari daerah Indonesiabagian barat. Dengan letak seperti ini mengakibatkanKerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan besardan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.
  • 4. Sultan Alauddin dengan nama asli Karaeng Ma’towaya Tumamenanga ri Agamanna. Ia merupakan Raja Gowa Tallo yang pertama kali memeluk agama islam yang memerintah dari tahun 1591 – 1638. dibantu oleh Daeng Manrabia (Raja Tallo) bergelar Sultan Abdullah. Sultan Hasanuddin (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 – meninggal diMakassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun) adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belandayang artinya Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur. Ia dimakamkan di Katangka, Makassar.
  • 5. Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan dilakukanoleh Datuk Robandang/Dato’ Ri Bandang dariSumatera, sehingga pada abad 17 agama Islamberkembang pesat di Sulawesi Selatan, bahkan rajaMakasar pun memeluk agama Islam. Raja Makasar yangpertama memeluk agama Islam adalah SultanAlaudin. Sejak pemerintahan Sultan Alaudin kerajaanMakasar berkembang sebagai kerajaan maritim danberkembang pesat pada masa pemerintahan rajaMuhammad Said (1639 – 1653). Selanjutnya kerajaan Makasar mencapai puncakkebesarannya pada masa pemerintahan SultanHasannudin (1653 – 1669).
  • 6. Pada masa pemerintahannya Makasar berhasilmemperluas wilayah kekuasaannya yaitu denganmenguasai daerah-daerah yang subur serta daerah-daerahyang dapat menunjang keperluan perdagangan Makasar. Iaberhasil menguasai Ruwu, Wajo, Soppeng, danBone.Perluasan daerah Makasar tersebut sampai ke NusaTenggara Barat. Daerah kekuasaan Makasar luas, seluruhjalur perdagangan di Indonesia Timur dapat dikuasainya.Sultan Hasannudin terkenal sebagai raja yang sangat antikepada dominasi asing. Oleh karena itu ia menentangkehadiran dan monopoli yang dipaksakan oleh VOC yangtelah berkuasa di Ambon. Untuk itu hubungan antaraBatavia (pusat kekuasaan VOC di Hindia Timur) danAmbon terhalangi oleh adanya kerajaan Makasar. Dengankondisi tersebut maka timbul pertentangan antara SultanHasannudin dengan VOC, bahkan menyebabkan terjadinyapeperangan. Peperangan tersebut terjadi di daerah Maluku.
  • 7. Dalam peperangan melawan VOC, SultanHasannudin memimpin sendiri pasukannya untukmemporak-porandakan pasukan Belanda di Maluku.Akibatnya kedudukan Belanda semakin terdesak. Ataskeberanian Sultan Hasannudin tersebut maka Belandamemberikan julukan padanya sebagai Ayam Jantan dariTimur. Upaya Belanda untuk mengakhiri peperangandengan Makasar yaitu dengan melakukan politik adu-domba antara Makasar dengan kerajaan Bone (daerahkekuasaan Makasar). Raja Bone yaitu Aru Palaka yangmerasa dijajah oleh Makasar mengadakan persetujuankepada VOC untuk melepaskan diri dari kekuasaanMakasar. Sebagai akibatnya Aru Palaka bersekutudengan VOC untuk menghancurkan Makasar.
  • 8. Akibat persekutuan tersebut akhirnya Belanda dapat menguasaiibukota kerajaan Makasar. Dan secara terpaksa kerajaan Makasar harusmengakui kekalahannya dan menandatangai perjanjian Bongaya tahun1667 yang isinya tentu sangat merugikan kerajaan Makasar.Isi dari perjanjian Bongaya antara lain:a. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan di Makasar.b. Belanda dapat mendirikan benteng di Makasar.c. Makasar harus melepaskan daerah-daerah jajahannya seperti Bonedan pulau-pulau di luar Makasar.d. Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.Walaupun perjanjian telah diadakan, tetapi perlawanan Makasarterhadap Belanda tetap berlangsung. Bahkan pengganti dari SultanHasannudin yaitu Mapasomba (putra Hasannudin) meneruskanperlawanan melawan Belanda.Untuk menghadapi perlawanan rakyatMakasar, Belanda mengerahkan pasukannya secara besar-besaran.Akhirnya Belanda dapat menguasai sepenuhnya kerajaan Makasar, danMakasar mengalami kehancurannya.
  • 9. Kerajaan Makasar merupakan kerajaan Maritim dan berkembang sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur. Hal ini ditunjang oleh beberapa faktor : letak yang strategis, memiliki pelabuhan yang baik jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 yang menyebabkan banyak pedagang-pedagang yang pindah ke Indonesia Timur. Sebagai pusat perdagangan Makasar berkembang sebagai pelabuhan internasional dan banyak disinggahi oleh pedagang- pedagang asing seperti Portugis, Inggris, Denmark dan sebagainya yang datang untuk berdagang di Makasar. Pelayaran dan perdagangan di Makasar diatur berdasarkan hukum niaga yang disebut dengan ADE’ ALOPING LOPING BICARANNA PABBALUE, sehingga dengan adanya hukum niaga tersebut, maka perdagangan di Makasar menjadi teratur dan mengalami perkembangan yang pesat. Selain perdagangan, Makasar juga mengembangkan kegiatan pertanian karena Makasar juga menguasai daerah-daerah yang subur di bagian Timur Sulawesi Selatan.
  • 10. Sebagai negara Maritim, maka sebagian besar masyarakat Makasar adalah nelayan dan pedagang. Mereka giat berusaha untuk meningkatkan taraf kehidupannya, bahkan tidak jarang dari mereka yang merantau untuk menambah kemakmuran hidupnya. Walaupun masyarakat Makasar memiliki kebebasan untuk berusaha dalam mencapai kesejahteraan hidupnya, tetapi dalam kehidupannya mereka sangat terikat dengan norma adat yang mereka anggap sakral. Norma kehidupan masyarakat Makasar diatur berdasarkan adat dan agama Islam yang disebut PANGADAKKANG. Dan masyarakat Makasar sangat percaya terhadap norma-norma tersebut.Di samping norma tersebut, masyarakat Makasar juga mengenal pelapisan sosial yang terdiri dari lapisan atas yang merupakan golongan bangsawan dan keluarganya disebut dengan “Anakarung/Karaeng”, sedangkan rakyat kebanyakan disebut “to Maradeka” dan masyarakat lapisan bawah yaitu para hamba-sahaya disebut dengan golongan “Ata”. Dari segi kebudayaan, maka masyarakat Makasar banyak menghasilkan benda-benda budaya yang berkaitan dengan dunia pelayaran. Mereka terkenal sebagai pembuat kapal. Jenis kapal yang dibuat oleh orang Makasar dikenal dengan nama Pinisi dan Lombo.Kapal Pinisi dan Lombo merupakan kebanggaan rakyat Makasar dan terkenal sampai mancanegara.
  • 11. atau Benteng Ujung Pandang (JumPandang) adalah sebuah benteng peninggalan KerajaanGowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantaisebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng inidibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yangbernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng LakiungTumaparisi kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasartanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadibatu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang adadi daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentukseperti seekor penyu yang hendak merangkak turun kelautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi KerajaanGowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut.Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratanmaupun di lautan. Nama asli benteng in i adalah BentengUjung Pandang.
  • 12. Mesjid Katangka didirikan pada tahun 1605 M. Sejakberdirinya telah mengalami beberapa kali pemugaran.Pemugaran itu berturut-turut dilakukan oleh SultanMahmud (1818), Kadi Ibrahim (1921), Haji MansurDaeng Limpo, Kadi Gowa (1948), dan Andi Baso,Pabbicarabutta Gowa (1962) sangat sulitmengidentifikasi bagian paling awal (asli) bangunanmesjid tertua Kerajaan Gowa ini.
  • 13. Tallo adalah sebuah kompleks makam kuno yang dipakai sejak abadXVII sampai dengan abad XIX Masehi. Letaknya di RK 4 LingkunganTallo, Kecamatan Tallo, Kota Madya Ujungpandang. Lokasi makamterletak di pinggir barat muara sungai Tallo atau pada sudut timur lautdalam wilayah benteng Tallo. Ber¬dasarkan basil penggalian(excavation) yang dilakukan oleh Suaka Peninggalan sejarah danPurbakala (1976¬-1982) ditemukan gejala bah wa komplek makamber¬struktur tumpang-tindih. Sejumlah makam terletak di atas pondasibangunan, dan kadang-kadang ditemukan fondasi di atas bangunanmakam.Kompleks makam raja-raja Tallo ini sebagian ditempat¬kan di dalambangunan kubah, jirat semu dan sebagian tanpa bangunan pelindung:Jirat semu dibuat dan balok¬balok ham pasir. Bangunan kubah yangberasal dari kuran waktu yang lebih kemudian dibuat dari batu bata.Penempatan balok batu pasir itu semula tanpa memper¬gunakanperekat. Perekat digunakan Proyek Pemugaran. Bentuk bangunan jiratdan kubah pada kompleks ini kurang lebih serupa dengan bangunanjirat dan kubah dari kompleks makam Tamalate, Aru Pallaka, danKatangka. Pada kompleks ini bentuk makam dominan berciri abad XIIMasehi.


Jangan lupa di follow : http//twitter.com/Erika_Wdiyaa3 Makasih :) 

NASKAH DRAMA SINGKAT " DIA TEMAN MU " || SMAN 1 ANYER ||

NASKAH DRAMA KELOMPOK 1 || SMAN 1 ANYER || X MIIA 3 ||

Prolog
            Diceritakan disebuah gedung sekolah terdapat satu siswa yang amat sangat kuno dan culun. Ia bernama “ Siti “ , karena tampilannya itu banyak temannya yang selalu memojokanny.  Bahkan hampir kebanyakan siswa dari tempat ia sekolah tidak menghargainya , terutama Sekar teman Sekolah Dasarnya . Ia sering merasa ilfil jika dekat – dekat dengan Siti , ia hanya memanfaatkan kepintaran yang di miliki si culun “ Siti “ saja . Buktinya ia sering memaksa siti untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Tapi, siti beruntung ternyata masih ada siswa yang  mau berbaik hati peduli padanya , peduli pada moral-moral yang di miliki teman-teman sekitarnya, yaa walaupun tidak banyak orang seperti itu  di sekolah siti. Anehnya keadaan ini terus menerus terjadi sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas , Tapi cerita mulai berubah saat mereka mulai beranjak dewasa.

“ DIA TEMAN MU “
Sutradara : Yulia Sandi Putri

            Matahari terbit begitu cerah dan gagah , di iringi dengan kicauan burung yang merdu. Udara pagi nan sejuk menyapa Siti pagi ini, dengan berseragam merah putih dan kacamata besarnya siti siap berangkat sekolah. Siti selalu membawa bekal ke sekolah dan tak lupa dengan air minum yang di kalungkan di lehernya.
Siti           :  “  Bu , aku berangkat yaa.. Assalammu’alaikum “ ( Cium tangan ibunya )
Ibu  Sit i  :  “ Siti sarapan dulu , ibu udah bikini nasi goring kesukaan kamu  ! “
Siti           : ” Udah siang bu  , nanti kesiangan “
Ibu Siti   : ” Yaudah , ini bekel sama minumnya . Nanti jangan lupa di makan yaa sayang ! “
                      ( memasukan bekal di tas siti dan mengalungkan minum di lehernya )

Siti          : “ iya bu , Asalammu’alaikum..” ( Cium tangan ibunya )
Ibu Siti  : “ Wa’alaikummusalam .. Hati-hati sayang “
Siti         : “ iya bu “
            Sesampainya di sekolah , tiba-tiba di tengah perjalanan menuju kelasnya siti di kejutkan dengan sekar dan teman-temannya yang menjahili siti. Siti tidak tahu mengapa sekar seperti ini ? dan apa alasannya sekar menjahilinya . Yang ia tahu sekar adalah kawan kecil terbaiknya.
Sekar : “ Eh, ada si culun “ ( Mengambil minuman siti yang ada di lehernya )
Siti     : “ Sekar kembalikan , sekar kembalikan.. itu punya aku dari ibu ku kalo kamu mau
               Nanti aku minta ke ibuku untuk memberikan satu botol minuman yang sama
               Sepertiku “ ( Meraih-raih botol minumannya dan dengan wajah penuh harap )
Sekar  : “ Eh enak aja aku gamau, kalo gue mau gue bias beli kali . Botol murahan aja .. “
                 ( Karena kesal dengan perkataan siti tadi , ia pun melemparkan botol itu ke lantai
                  Dan menumpahkan air dalam botol itu )
Siti       : “ Sekaaarrr…. “ ( Rintih siti )
Salah satu teman sekarpun memberitahu padanya jika Bu Rina sedang menuju kearahnya.
Bela         : “ Sekar, Itu ada bu Rina “ ( Membisikan sekar )
Bu Rina  : “ Sekar , Kamu ini apa-apaan. Cepat minta maaf pada Siti “
Sekar      : “ Bu Rina , itu bu.. itu bu.. Kita Cuma bercanda bu Sitinya ga bias di ajak bercanda
                       Masa kaya gitu doing nangis “ ( Melirik sinis kea rah siti )
Tasya     : “ Iya bu , kita Cuma becanda ko “
Bu Rina  : “ Yasudah , cepat minta maaf pada siti “
Sekar      :  “ Maaf ya .. “ ( Dengan muka juteknya )
Teman – Teman Sekar : “ Iya maaf ya .. “


Setelah itu teman – teman siti pun datang dan bu Rina pun pergi meninggalkan mereka.
Sinta    : “ Siti kamu kenapa ? “ ( Memegang bahu sekar )
Sekar  : “ Udah yu , ke kelas ilfiel gue lama-lama di sini “
Teman – teman sekar : “ Iya kita juga ilfiel “
Siti      : “ Engga apa-apa ko sin “ ( tersenyum )
Teman – teman siti pun menolong siti dan mengambil botol minumnya yang telah kotor dan teman-temannya pun menghiburnya.

*Song => Once – Symphoni yang indah*


Alun sebuah symphony
Kata hati disadari
Merasuk sukma kalbuku
Dalam hati ada satu
Manis lembut bisikanmu
Merdu lirih suaramu
Bagai pelita hidupku

Berkilauan bintang malam
Semilir angin pun sejuk
Seakan hidup mendatang
Dapat ku tempuh denganmu

Berpadunya dua insan
Symphony dan keindahan
Melahirkan kedamaian
Melahirkan kedamaian

Syair dan melodi
Kau bagai aroma penghapus pilu
Gelora di hati
Bak mentari kau sejukkan hatiku

Burung-burung pun bernyanyi
Bunga-bunga pun tersenyum
Melihat kau hibur hatiku
Hatiku mekar kembali
Terhibur symphony
Pasti hidupku ‘kan bahagia



Siti      : “ makasih ya temen-temen “ ( Memeluk teman-temannya )
Teman – Teman siti    : “ sama-sama siti “
Tia      : “ Emang sekar itu gak punya hati “ ( Dengan suara kesal )
Siti     : “ Huss tia , jangan ngomong gitu dia juga teman kita “
Romi  : “ Sabar siti , kejahatan jangan di balas dengan kejahatan “
Siti      : “ Iya Rom ,, kamu bener “
            Teman – teman siti inilah yang membuat siti masih bertahan satu sekolah dengan Sekar. Walau hampir setiap hari siti selalu merasa sedih dan bosan karna sikap sekar dan teman-temannya toh masih ada teman-temannya siti yang mau berbaik hati dan peduli padanya .
Tak terasa masa – masa sekolah dasar pun berakhir. Kini Siti sudah beranjak remaja. Remaja ibu yang cantik itu kata ibunya. Dengan tetap mengenakan kacamata besarnya Siti berangkat ke sekolah. Tak di sangka siti satu sekolah lagi dengan Sekar bahkan mereka satu kelas . Masa SMP adalah masa yang paling melelahkan bagi siti bagaimana tidak , Dia selalu menjadi bahan untuk di perolok-olokkan temannya terutama Sekar dan teman-teman Sekar yang kini menjadi teman sekelasnya . Sekar masih tidak berubah justru ia semakin parah.
            Sesampainya di kelas ia langsung duduk , tetapi tak di sangka kursi yang di duduki Siti sudah di letakan permen karet sehingga membuat roknya kotor .
Intan  : “ Siti .. itu .. itu.. di rok kamu permen karet . Tadi Billy yang menaruhnya di situ .
                  Maaf aku baru bilang soalnya aku takut masih ada Bela dan Tasya di kelas “
Mela   : “ Yaampun siti .. rok kamu .. rok kamu kotor “ ( Memegang rok siti )
Siti      : “ Engga apa-apa ko Mel , nanti di cuci juga hilang . Oia intan makasih ya udah ngasih
                 Tau aku , engga apa-apa ko yang penting kamu udah berani bilang “
Sekar dan teman-temannya pun datang.
Chika  : “ Cup .. Cup .. Cup kasian . Roknya si cupu kotor tuh jangan-jangan nanti nangis lagi
                  Kaya waktu SD dulu  , Hahaha..“ ( Mengucek-ngucek matanya )


Teman-teman Sekar : “ Hahaha … “
Sekar  : “ Drama deh kalian , eh intan lo ko mau sih temenan sama dia ? liat deh gayanya gak
                   Gaya tahun 70 – an kan gak banget , mendingan gabung sama kita – kita ya gak
                   Guys ? ( Melipat kedua tanggannya )
Bela   : “ Iya dong , penampilan kita kan penampian elit kelas-kelas red karpet gak kaya dia
               Kemana-mana bawa mata empat“ ( memegang pundak  Sekar )
Billy  : “ Terus bawa-bawa gallon air di lehernya “
Tasya  : “ Bukan gallon bil tapi gentong air “
Teman – teman sekar : “ Hahaha … dasar culun  “
Intan : “ Billy , Tasya … Siti itu temen kita juga , kalian gak boleh kaya gitu kamu gak boleh
                Ngehina dia , kamu gak boleh ngatain dia culun kayak gitu “
Sinta  : “ Iyah , seengganya siti lebih cantik hatinya gak kaya kalian hatinya busuk “
Sekar : “ Apa lo bilang ? ulangin ? gue bilang ulangin “ ( Memegang wajah sinta )
Romi  : “ Sekar .. kamu apa – apaan siih , udah lepasin “ ( Memegang tangan sekar )
Sekar  : “ Sinta .. Lo .. Lo ...” ( Mengangkat tangannya )
Siti        : “ Udah cukup Sinta .. Intan , Sekar bener kok aku emang culun aku kuno aku gak
                 Pantes berteman sama kalian yang moderm “ ( Menahan air mata )
Billy     : “ Sekar.. udah ngapain ngurusin si culun mending kita ke kantin “ ( menarik sekar )
Bela     : “ Iya sekar , ga penting ngurusin geng culun kaya mereka “
            Setelah sekar dan teman-temannya pergi , siti pun pergi ke belakang dan menangis. Teman-temannya pun menghampirinya dan menghiburnya.




*Song=> Cherrybelle – You are beautifull*



Don’t cry, don’t be shy
Kamu cantik apa adanya
Sadari syukuri dirimu sempurna
Jangan dengarkan kata mereka
Dirimu indah pancarkan sinarmu

You are beautiful, beautiful, beautiful
Kamu cantik cantik dari hatimu
You are beautiful, beautiful, beautiful
Kamu cantik cantik dari hatimu

Don’t cry, don’t be shy
Kamu cantik apa adanya
Sadari syukuri dirimu sempurna
Jangan dengarkan kata mereka
Dirimu indah pancarkan sinarmu wo oww

You are beautiful, beautiful, beautiful
Kamu cantik cantik dari hatimu
You are beautiful, beautiful, beautiful
Kamu cantik cantik dari hatimu



Sitipun kembali tersenyum dan ikut menyanyi bersama dengan teman-temannya.. Siti hanya berharap keadaan antara dirinya dan Sekar cepat berakhir , Siti sangat merindukan sosok Sekar sahabat kecilnya dahulu.
            Namun , Tak di sangka keadaan ini pun berlangsung hingga mereka duduk di bangku sekolah menengah atas . Entah jodoh atau apa Siti dan Sekar pun kembali menjadi teman sekelas ,
Sekar   : “ Eh kita sekelas lagi , gue bosen tau ga. Tapi ada enaknya juga sih sekelas sama
                  Kamu , tugas-tugas gue ada yang ngerjain , Haha.. Makasih ya culun Haha.. “
Tia       : “ Buset , dari jaman SD sampe SMA ketemu mulu sama nenek lampir yang satu ini “
Sekar  : “ Apa lo bilang ? “
 Siti      : “ Tia … Sekar , sebenarnya apa salah aku sama kamu ? mengapa sepertinya kamu
                  Sangat tidak suka dengan ku ? Apa aku begitu buruk di mata mu ? “

Sekar pun tercengang mendengar perkataannya dan bahkan ia tak merespon perkataan siti
Billy  :  “ wits , sejak kapan si culun berani ngomong kya gitu ,, Haha  “ ( tertawa mengejek )
Tasya  : “ Eh siti asal lo tau kita ilfiel sama gaya lo yang dari jaman SD sampe sekarang ga
                 Berubah-berubah . Lo tuh Jelek , culun , kumel seharusnya lo nyadar kalo lo gak
                 Pantes sekolah di sini . Satu lagi yang bikin kita ga suka sama lo , lo itu caper ke
                Guru, lo selalu jadi anak kesayangan semua guru , kita gak suka itu ! benarkan ?
Sekar    : “ Iya .. “ ( Dengan nada gugup )
            Bel pun berbunyi pak bagus guru matematika masuk memberikan materi , selang beberapa menit sebelum pelajaran akan berakhir pak bagus memberikan tugas rumah kepada para muridnya.
Pak Bagus  : “ Ada pertanyaan ? Jika tidak ada kerjakan tugas rumah halaman 160-166 dan
                          besok harus sudah ada di meja sebelum bapak datang “
Semua         : “ Iya pak “
Pak Bagus  : “ satu lagi pajari materi bab 1 – 3 besok kita ulangan . Sekian Selamat siang “
Semua          : “ siang pak “
Mela             : “ ya tugas lagi , baru juga selesai sama tugas sejarah ada lagi tugas lainnya “
Siti               : “ Namanya juga pelajar mel jadi wajar kalo banyak tugas , nanti kita belajar
                         Bareng di rumah ku , ibu aku hari ini bikin pudding special loh , hehe “
Sinta          : “ Puding .. apa katamu siti pudding ? oke hari ini kita ke rumah siti “
Romi         : “ Ah kamu ini sin , giliran makanan aja semangat “
Sekar         : “ Eh siti yang paling cantik sejagad raya, tolong dong kerjain pr gue. Capek
                        Nih , pulang sekolah gue mau ke mall terus pastikan capek terus tidur ,
                        Lo kan strong women yaa kaya power ranger jarang capek juga kan , yaudah
                         Nih kerjaain besok harus udah ada di meja gue ya ! Byee siti “

Chika      : “ Sekalian nih tugas gue juga , Bye cupu ‘
Bela         : “ Siti , tugas gue juga yaa jangan lupa , bye “
Tasya      : “ Nih sekalian tugas gue juga , bye cupu “
Billy        : “ Tugas gue juga ya sit , jangan lupa lo kerjain ya ! Haha .. bye cupu “
Romi     : “ Astaga , mereka makin menjadi-jadi aja , gak berubah-berubah “
Tia         : “ Ada apa sit ? maaf aku tadi abis dari wc. Astaga ini buku siapa banyak banget “
Sinta      : “ Buku siapa lagi kalo bukan buku gengnya nenek lampir itu “
Siti          : “ Sinta , dia sekar bukan nenek lampir ga baik ngata-ngatain orang , yaudah
                    Mending kita kerumah aku ibuku membuat pudding special  “
Sinta      : “ Hayu .. hayu  cepet pulang “
Temen-temen Siti : “ hahaha … “
Sesampainya di rumah siti dan teman-temannya pun mengerjakan tugas yang telah di berikan pak bagus dan tak lupa dengan memakan pudding buatan ibu siti.
Siti dan teman”nya  : “ Assalammu’alaikum .. “
Ibu siti : “ Wa’alaikummusalam , masuk masuk ibu udah bikin pudding special “
Semua  : “ Hmmm… “ ( Melirik sinta )
Ibu Siti : “ Ada apa ? kok hmm .. hmm “
Romi     : “ Engga ada apa-apa ko bu “
Tak lama kemudian mamah sekar pun datang , kali ini beliau bersama adik perempuan sekar.
Mamah Sekar : “ Assalammu’alaikum bu rahma “
Siti                     : “ Wa’alaikummusalam .. eh mamah sekar ayoo masuk , nanti siti panggil
                               Ibu bentar “
Siti                     : “ Ibu .. “

Ibu Siti  : “ Iya sayang .. “
Siti          : “ bu , ada mamah sekar sama adiknya dateng “
Ibu Siti  : “ Mamah sekar ? di mana ? udah kamu suruh masuk belum ? “
Siti          : “ Udah ko bu , ada di ruang tamu bu “
Ibu Siti  : “ Yaudah kamu bikini minum sekalian buat temen-temen kamu , ibu ke ruang
                    Tamu dulu “
Siti         : “ Iya ibu cantik “
Ibu sitipun pergi menemui mamah sekar.
Ibu siti  : “ Eh bu susi , ada apa nis sampe ibu walikota mampir ke gubugnya siti ? eh ada    
                     firda juga udah gede ya Sekarang , apa kabar bu ? “ ( Cepika – cepiki )
Mamah sekar  : “ Baik ko bu , ah ibu bisa aja .. engga ada apa-apa ko bu sekalian tadi lewat
                                 Terus mampir “
Sinta     : “ Itu mamahnya sekar ? beda anget ya sama anaknya “ ( berbisik )
Mela     : “ Iya jauh banget , nyokapnya baik banget lah anaknya amit-amit “ ( berbisik )
Romi    : “ Huss .. “
Siti       : “ Ini mamah sekar di minum maaf engga ada apa-apa “ ( membawa minum )
Mamah sekar  :  “ Ah apa sii siti , ini udah lebih dari cukup ko . Oia , kalo ga salah siti sekelas
                                  Sama sekar kan ? kapan – kapan maen dong ke rumah sekar “
Siti      : “ Iya mamah sekar kita sekelas , iya kapan – kapan mamah sekar “
Firda  : “ Ka siti maen yu kerumah , udah lama ga maen bareng lagi “
Siti      : “ Iyah firda cantik , nanti kalo ada waktu kaka maen ke sana. Sekarang kakanya lagi
                 Sibuk mau UN “
Firda  : “ janji ya ? ka sekar pasti kangen juga maen sama kaka “
Siti      : “ hehe .. oia mamah sekar , sekar mana ? om budi juga mana ? “

Mamah Sekar : “ Iya nanti kesini ko , om budi lagi jemput sekar dulu terus nanti ke sini
                               Jemput kita. “
Tak lama kemudian sekar dan papahnya pun tiba “
Papah Sekar  : “ Assalammu’alaikum .. “
Semua  : “ Wa’alaikummuslam .. “
Mamah sekar  : “ Sekar salim ke ibunya siti “
Sekar  : “ Ibu siti .. “ ( Salim )
Papah sekar : “ Bu apa kabar ? udah lama ya gak ketemu “
Ibu siti      : “ alhamduliah pak baik “
Papah sekar  : “ Aih siti , udah gede yaa makin cantik aja “
Siti                    : “ Ah om engga ko biasa aja , siti mah masih sama kaya dlu om “
Sekar               : “ Udah yum ah , pulang aku udah di tungguin anak-anak di cafĂ© “
Mamah sekar  : “ iyah iyaa , yaudah bu kita pamit dulu firda juga udah ngantuk kasian “
Ibu Siti : “ Buru-buru banget bu , yaudah bun nanti maen lagi ya kesini kapan-kapan “
Mamah siti  : “ iya bu , Assalammu’alaikum “
Ibu siti  : “ Wa’alaikummusalam , hati-hati bu “
Sinta   : “ Itu ibu  , bapak sama adenya sekar ya sit ? jauh banget sama si sekar “
Siti       : “ Iyah , jauh apanya ? “
Tia       : “ Jauh tingkahnya lah sit “
Romi   : “ Yaudah sit kita balik dulu , udah sore lagian besok kan mau ulangan “
Romi   : “ Ibu siti kita pamit dulu ya “
Ibu siti  : “ Loh ko buru-buru ? “
Romi  : “ Iya bu udah sore besok kita mau ulangan “
Ibu Siti  : “ Oh yaudah , hati-hati ya . Jangan lupa nanti maen lagi “

Romi  : “ Iya bu “
Teman-teman siti : “ Assalammu’alaikum “
Ibu siti  & Siti : “ Wa’alaikummusalam “
            Keesokan harinya , siti tampak pucat sekali. Wajar saja semalaman dia mengerjakan tugas teman-temannya sekar bahkan ia hanya tidur 3 jam. Pagi ini di guyur hujan sehingga barang-barang sitipun basah dan bahkan buku teman-temannya sekar.
Sesampainya di jalan menuju kelas siti sudah di tunggu oleh sekar dan teman-temannya.
Sekar : “ Pagi culun , mana tugas gue ? udah di kerjain kan ? “
Teman-teman sekar : “ Iya culun tugas kita juga mana ? “
Siti  : “ Pagi juga sekar , ini buku kalian. Tapi maaf bukunya basah sedikit soalnya hujan aku
              Juga naek sepeda “
Bela  : “ Apa-apaan nih , terserah ya lo mau berangkat naek sepeda kek , mobil kek atau
              Naek getek sekalipun gue gak pikirin . yang penting buku kita aman ! “
Chika : “ Iyaa tuh culun bener kata bela “
Sekar  : “ Udah ga usah di perdebatin, yang penting tugas kita selesai kan, yaudah yu cabut ”
Sekar  : “ Kasian dia semaleman pasti ngerjain tugas kita “
Sekar dan teman-temannya pergi, hari ini meski siti sedang sakit siti merasa senang karna ternyata sekar masih memperdulikannya . Saat sekar jalan siti melihat ada bola yang menuju ke arah sekar dan sitipun lari untuk menyelamati sekar.
Siti  : “ Sekar awas … “ ( mendorong sekar dan bola itu pun terkena kepala siti hingga ia tak
             Sadarkan diri dan mimisan )
Sekar  : “ Aduh .. “
Billy    : “ Sekar lo ga apa-apa kan ? “
Tasya  : “ Sekar …cupu sekar… si cupu .. “
Sekar   : ( Melihat kea rah siti )

Sekar  : “ Siti , bangun siti … bangun … tolong cepet bawa ke UKS “ ( gemetar )
Saat siti di bawa ke UKS sekar pun mengikutinya di belakang dan tak henti-hentinya ia menangis. Ia khawatir dengan keadaan sekar dan ia merasa bersalah atas semua perlakuannya pada siti.
Sinta  : “ Eh sekar liat apa yang udah siti lakuin buat lo ! Lo tau gak dia ngerjain tugas lo
                Sama temen-temen lo semaleman dia tidur Cuma 3 jam sampe dia sakit sekarang “
Tia     : “ Dan kamu harus tau sekar ibunya udah nyuruh dia buat ga sekolah tapi dia tetep
               Ngeyel buat sekolah dan apa lo tau kenapa dia gitu ? dia kaya gitu karna dia takut
               Kamu di hukum karna engga ngerjain tugas. Dia gitu Cuma demi ngasihin buku
              Kalian tau ga ! “
Mendengar perkataan Sinta dan Tia Sekar pun semakin merasa bersalah dan dia menyuruh Billy untuk memanggil ibu desi agar siti cepat di tangani.
Tia   : “ Siti .. siti.. bangun “
Bu Desi  : “ Tenang semuanya , jangan khawatir sekarang kalian tunggu di luar dulu “
Sekar      : “ Sembuhin siti  ya bu , aku mohon “
Mela       : “ Iya bu , tolong ya bu kami takut siti kenapa-kenapa “
Bu Desi  : “ Iya yang penting kalian tenangin diri kalian dulu , terus kalian berdo’a semoga
                     Siti baik-baik aja “
Beberapa saat kemudian .. bu Desi keluar dari UKS
Sinta   : “ Bu gimana ? siti udah siuman ? siti baik-baik aja kan ? “ ( memegang bu desi )
Bu Desi  : “ Tenang sinta .. siti engga apa-apa ko dia Cuma kebentur makannya dia binsan
                      Terus kalo masalah mimisan , itu kayanya penyakitnya dia “
Sekar     : “ Iya bu , dari TK siti emang suka mimisan kalo dia kecapean “
Bu Desi  : “ Pantas saja “
Sekar      : “ Iya bu , aku udah boleh masuk kan bu ? “

Bu Desi   : “ Iya boleh “
Sekar  : “ Makasih bu “ ( Masuk UKS )
Sinta   : “ Loh ko? Romi kenapa kamu ga larang sekar ? kalo dia jahatin siti gimana ?”
Romi  : “ Sin , udah deh . Sekar ga bakal apa-apain siti kamu ga liat tadi khawatirnya sekar
                 Waktu siti masuk UKS ? “
Chika  : “ Iya sinta kita baru kali ini ngeliat sekar sekhawatir dan sepeduli ini sama orang “
Di dalam uks sekar pun meminta maaf atas semua kesalahannya pada siti.
Sekar  : “ Siti .. “
Siti      : “ Sekar .. kenapa kamu nangis ? “
Sekar  : “ Siti maafin gue selama ini gue selalu jahatin lo , selalu ngehina lo “ (memeluk siti)
Siti      : “ Engga apa-apa ko sekar , aku seneng kamu udah berubah sekarang “
Teman-temannya pun datang dan meminta maaf pada siti.
Bela  : “ Siti , maafin kita semua ya , kita udah jahat banget sama kamu “
Teman-teman siti : “ Iya siti maafin kita “
Siti   : “ Bukan salah kalian ko aku tau emang dandanan aku aneh , kuno jadi wajar kalian
             Gitu “
Sekar  : “ Engga ko sit , lo itu cantik dari hati lo .. Maafin kita sit “
Siti       : “ Aku udah maafin kalian semua ko “
            Sejak saat itu semuanya berubah Siti dan Sekarpun bersahabat kembali, Sahabat kecil sitipun telah kembali lagi . Kini tiba saatnya perpisahan. Ibu siti , mamah sekar , papah sekar , Firda , dan Bu Rina pun datang pada acara itu. Siti menjadi juara umum dan mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya keluar negri dan sekar masuk 10 besar rangkaing kelas. Saat perpisahan itu siti , sekar , dan teman-temannya menyanyikan sebuah lagu dari Padi – Sahabat Selamanya


 *SONG*

“ DIA SAHABAT MU “


Sutradara              :  Yulia Sandi Putri
Ketua                      :  Rio Rachmat Maulana
Wk. Ketua             :   Ulfiyati Dewi
Penulis                   :  Erika Widiya Agustiana Dan Yulia Sandi Putri
Penata music       :   Anisa Agustin
Penata Properti  :   Refi Indriyani
Penata Busana     :  Anisa Agustin
Penata Make-up  :   Nurhafidoh
Kroegarfer            :   Nida Zahrotun Hasanah

PEMERAN


Siti                        :    Nida Zahrotun Hasanah
Sekar                   :     Minda Citra Candratio
Sinta                    :     Dea Alfionita
Bela                     :    Nurhafidoh
Tasya                  :     Novi Ardianti
Tia                        :    Anisa Agustin
Mela                     :   Ninda Aini Maulida
Romi                     :   Rio Rachmat Maulana
Billy                      :   Rival Daniago
Chika                    :    Elsi Tina Pratiwi
Ibu Siti                 :     Erika Widiya Agustiana
Mamah Sekar     :     Leni Indriyani
Papah Sekar       :     Indra Kholis
Firda                     :     Ulfiyati Dewi
Bu Rina                 :    Yuri Meiwanti
Pak Bagus            :    Gunawan
Bu Desi                 :    Refi Indriyani
Intan                       :   Dewi Nurfazriah

Dalang / Prolog   :   Yulia Sandi Putri



SALAM HANGAT DARI EWA :)